SEJARAH MASJID TIBAN
Sekilas
Anda mungkin merasa heran mendengar nama masjid yang satu ini. Biasanya
masjid di beri nama dari bahasa Arab,seperti Baitul Muttaqin,Darul
Mukminin,Darul Muttaqin,dan lain-lain.
Nama itu memang terdengar aneh,tapi tentu saja ada sejarahnya atau asbabul al nuzul yang melatar belakangi pemberian nama tersebut.secara Etimologi Jawa,
”Tiban” berarti “Kejatuhan” atau dengan konotasi lain “ada secara tiba-tiba” .
Unik,
historis, dan mistis. Itulah kesan yang ada jika melihat Masjid Tiban
di Desa Jenar Kidul, Kecamatan Purwodadi, Purworejo.
Banyaknya
benda-benda purbakala yang semuanya memiliki cerita yang melatar
belakanginya sudah cukup menjadi bukti dari kesan-kesan tersebut.
Imam
Masjid Tiban, M Djalal Sujuti BA mengungkapkan bahwa Masjid Tiban
diperkirakan bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung Demak.
Ruangan Dalam Masjid Tiban
Konon, Masjid Tiban dibangun oleh salah satu Wali Songo,yakni Sunan Kalijaga sekitar tahun 1468 M. Namun saat membangun Masjid tersebut,Sunan Kalijaga sedang menyamar menggunakan nama Syekh Udan Baring.
Di Masjid Tiban tersimpan benda-benda purbakala yang ada sejak masjid tersebut berdiri.
Misalkan, Gapura kuno yang terletak di depan Masjid.
Gapura
yang terbuat dari batu bata itu semula hanya di rekatkan dengan tanah
seperti model bangunan jaman kuno. Namun karena mengalami
kerusakan,maka pada tanggal 10 Februari 1991,gapura itu di pugar dan
bentuk keaslian dari gapura tetap di pertahankan.
Kolah Bundar : yang terbuat dari jambangan tanah.
Kolah
bundar ini pertama kali di temukan di lahan persawahan
Jambangan,sekitar 1,5 KM dari Masjid. Kolah tersebut selanjutnya di
angkat ke Masjid dan diletakkan di ebelah selatan Masjid. Kolah bundar
tersebut di beri nama Al Mussyafa yang berarti Kolah pengobatan.
Dipercaya
bila orang yang sakit,mandi atau meminum air dari kolah tersebut akan
sembuh.Kepercayaan ini tidak hanya di kalangan warga sekitar, namun
tidak sedikit warga dari luar daerah yang juga percaya.Mereka mendatangi
Masjid tersebut hanya untuk mandi atau sekedar mengambil air untuk di
minum supaya sakitnya sembuh. Juga ada yang mandi atau mengambil air
supaya keinginannya terkabulkan. Misalkan supaya lulus ujian, mudah
mendapatkan jodoh, segera mendapat pekerjaan,naik pangkat dll.
Selain Gapura dan Kolah, di Masjid Tiban juga terdapat Batu Hitam. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Hajar Aswad. Yang
menarik, cerita yang berkembang batu hitam tersebut konon merupakan
bagian dari Hajar Aswad yang ada di Ka’bah Masjidil Haram Makkah.
Imam
Masjid Tiban, M Djalal Sujuti BA juga menceritakan, konon saat
membangun Ka’bah di Makkah, Nabi Ibrahim AS melemparkan salah satu batu
dari Hajar Aswad Ka’bah.
Tempat
yang kejatuhan batu tersebut, sambung Djalal, nantinya akan berdiri
sebuah masjid. Di bawah batu hitam tersebut terdapat sebuah Tulisan
Arab. Saat ini batu hitam tersebut berada di sebelah selatan Masjid
Tiban dan dipagar untuk melindungi posisi aslinya.
Benda Purbakala lainnya adalah Empat Buah Saka Guru yang
terbuat dari tatal kayu Jati yang diikat menggunakan lempengan besi.
Saka guru tersebut diyakini memiliki ukuran yang sama dengan saka yang
dibuat Sunan Kalijaga untuk Masjid Agung Demak. Sampai saat ini saka
guru itu masih menjadi penyangga utama bangunan atap masjid.
Saka Guru
Yang
menarik, di bawah saka guru tersebut terdapat empat buah umpak
penyangga tiang Yoni dan Lingga dalam bentuk laki-laki dan perempuan.
Umpak batu yang merupakan bangunan masa peradaban Hindu-Budha itu
menunjukkan terjadinya kesinambungan budaya. Sekaligus wujud toleransi
karena produk dari bangunan agama lain masih tetap diakomodir.
Selanjutnya, benda lainnya yang juga dianggap purbakala adalah Sumur Tiban yang
terletak di sebelah utara masjid. Sumur ini mensuplai kebutuhan air
untuk bersesuci di masjid. Sumur ini juga dipercaya muncul secara
tiba-tiba.
Airnya
tidak pernah kering. Tidak sedikit warga dari luar daerah yang datang
ke masjid ini hanya untuk merasakan kesegaran air dari sumur tersebut.
Bahkan sejumlah warga dari luar negeri juga sudah mendatangi masjid
tersebut.
Benda purbakala terakhir yang ada di Masjid Tiban adalah Bedug Kuno.
Konon
bedug tersebut dibuat dari cabang kayu Jati Pendowo yang batang
utamanya dibuat untuk Bedug Kyai Bagelen atau Bedug Pendowo yang
merupakan bedug terbesar di dunia.
Saat
ini, bedug pendowo berada di Masjid Darul Muttaqin, Kauman, Purworejo.
Bedug ini juga dinyatakan sebagai benda purbakala dan menjadi warisan
peradaban yang terus dijaga kelestariannya.
Sumber : suara merdeka
PROFIL MASJID TIBAN
Purworejo,
Biasanya, masjid diberi nama-nama dari bahasa Arab, seperti Baitul Muttaqin, Darul Mukminin, Darul Muttaqin, dan lain-lain. Namun, masjid yang terletak di Dusun Kauman, RT 02/RW 02 Desa Jenarkidul, Kecamatan Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah, ini memiliki nama yang kurang lazim, yaitu Masjid Tiban.
Nama itu memang terdengar aneh. Tapi, tentu saja saja ada sejarah yang melatarbelakangi pemberian nama tersebut. Secara etimologi Jawa, “Tiban” berarti “kejatuhan” atau dengan konotasi lain “ada secara tiba-tiba”. Lantas, apa kaitannya dengan masjid tersebut?
Ya, masyarakat di sekitar Masjid Tiban percaya sejumlah benda kuno (purbakala) yang ada di masjid tersebut adalah tiban. Rasanya memang sulit dirasionalisasikan. Namun, itulah fakta historis-sosilogis yang melingkupi sejarah masjid.
Imam Masjid Tiban, M. Djalal Sujuti mengungkapkan, Masjid Tiban diperkirakan berdiri bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung Demak. "Gaya arsitekturnya mirip-mirip Masjid Agung Demak," katanya.
Dia melanjutkan, konon Masjid Tiban dibangun oleh salah satu Walisongo, yakni Sunan Kalijaga sekira 1468 M. Namun, saat membangun masjid tersebut, Sunan Kalijaga sedang menyamar menggunakan nama Syeikh Udan Baring.
Di Masjid Tiban tersimpan tujuh jenis benda purbakala yang ada sejak masjid tersebut berdiri. Pertama, gapura kuno yang terletak di depan masjid. Gapura yang terbuat dari batu bata itu semula hanya direkatkan dengan tanah seperti model bangunan zaman kuno. Karena mengalami kerusakan, maka pada tanggal 10 Februari 1991, gapura itu dipugar. Namun, bentuk keaslian dari gapura tetap dipertahankan.
Biasanya, masjid diberi nama-nama dari bahasa Arab, seperti Baitul Muttaqin, Darul Mukminin, Darul Muttaqin, dan lain-lain. Namun, masjid yang terletak di Dusun Kauman, RT 02/RW 02 Desa Jenarkidul, Kecamatan Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah, ini memiliki nama yang kurang lazim, yaitu Masjid Tiban.
Nama itu memang terdengar aneh. Tapi, tentu saja saja ada sejarah yang melatarbelakangi pemberian nama tersebut. Secara etimologi Jawa, “Tiban” berarti “kejatuhan” atau dengan konotasi lain “ada secara tiba-tiba”. Lantas, apa kaitannya dengan masjid tersebut?
Ya, masyarakat di sekitar Masjid Tiban percaya sejumlah benda kuno (purbakala) yang ada di masjid tersebut adalah tiban. Rasanya memang sulit dirasionalisasikan. Namun, itulah fakta historis-sosilogis yang melingkupi sejarah masjid.
Imam Masjid Tiban, M. Djalal Sujuti mengungkapkan, Masjid Tiban diperkirakan berdiri bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung Demak. "Gaya arsitekturnya mirip-mirip Masjid Agung Demak," katanya.
Dia melanjutkan, konon Masjid Tiban dibangun oleh salah satu Walisongo, yakni Sunan Kalijaga sekira 1468 M. Namun, saat membangun masjid tersebut, Sunan Kalijaga sedang menyamar menggunakan nama Syeikh Udan Baring.
Di Masjid Tiban tersimpan tujuh jenis benda purbakala yang ada sejak masjid tersebut berdiri. Pertama, gapura kuno yang terletak di depan masjid. Gapura yang terbuat dari batu bata itu semula hanya direkatkan dengan tanah seperti model bangunan zaman kuno. Karena mengalami kerusakan, maka pada tanggal 10 Februari 1991, gapura itu dipugar. Namun, bentuk keaslian dari gapura tetap dipertahankan.
Kedua, kolah bundar yang terbuat dari jambangan tanah. Kolah bundar ini
pertama kalinya ditemukan di lahan persawahan Jambangan, sekitar 1,5
kilometer dari masjid. Kolah tersebut selanjutnya diangkat ke masjid dan
diletakkan di sebelah selatan masjid. Kolah bundar itu diberi nama Al
Musyaffa yang berarti Kolah Pengobatan.
Dipercaya orang yang sakit dan mandi atau minum air dari kolah tersebut akan sembuh. Kepercayaan ini tidak hanya di kalangan warga sekitar, namun tidak sedikit warga dari luar daerah yang juga percaya.
Mereka mendatangi masjid tersebut hanya untuk mandi atau mengambil air untuk diminum supaya sakitnya sembuh. Juga ada yang mandi atau minum air supaya keinginanya terkabulkan. Misal, supaya lulus ujian, mudah mendapatkan jodoh, dan bisa memperoleh pekerjaan. (sm)
Dipercaya orang yang sakit dan mandi atau minum air dari kolah tersebut akan sembuh. Kepercayaan ini tidak hanya di kalangan warga sekitar, namun tidak sedikit warga dari luar daerah yang juga percaya.
Mereka mendatangi masjid tersebut hanya untuk mandi atau mengambil air untuk diminum supaya sakitnya sembuh. Juga ada yang mandi atau minum air supaya keinginanya terkabulkan. Misal, supaya lulus ujian, mudah mendapatkan jodoh, dan bisa memperoleh pekerjaan. (sm)
Masjid Tiban Jenar Kidul – Jejak Perjuangan Sunan Kalijaga
PURWOREJO(KRjogja.com) Sebagai
salah satu sentra kebudayaan, Kabupaten Purworejo menyimpan berbagai
peninggalan masa lalu. Masjid Tiban di Desa Jenar Kidul Kecamatan
Purwodadi menjadi salah satunya. Masyarakat mempercayai jika masjid
tersebut merupakan jejak peninggalan Sunan Kalijaga, ulama Islam pada
masa kewalian, 500 tahun silam.Masjid
tersebut kini juga menjadi sentra peribadahan masyarakat sekitar. Bahkan
banyak peziarah dari berbagai kota yang mampir untuk napak tilas atau
sekedar salat di masjid itu. “Banyak yang datang, tidak hanya dari
Purworejo, namun beberapa daerah di Indonesia. Hanya saja tidak setiap
hari,” ucap Sutarno, penjaga masjid, kepada KRjogja.com, Rabu (16/10).
Selain itu, dibuatlah prasasti Sipater yang menunjukkan angka tahun dan proses pendirian masjid. Dikatakan, maksud nama masjid tiban bukan berarti bangunan itu tiba-tiba saja muncul, melainkan bermakna bahwa masuk tempat ibadah haruslah salat, karena bisa menjadi obat. “‘Ti’ berasal dari kata ‘Ta’ atau masuk dan ‘ban’ maksudnya obat, artinya dengan masuk masjid dan salat bisa menjadi obat bagi manusia,” tuturnya.
Kendati dari luar sudah tampak modern, konstruksi asli tetap dijaga di dalam masjid itu. Antara lain empat soko guru dari kayu jati dan rangka atap berukir, tetap seperti saat didirikan. Belum pernah ada usaha mengganti konstruksi asli, kecuali mengganti atap dengan genteng. “Hanya atap yang diganti genteng baru, juga ada penambahan bangunan teras dan menara pengeras suara,” terangnya.
Warga, lanjutnya, bersyukur dengan keberadaan masjid tersebut. Bangunan itu menjadi tonggak awal mula penyebaran Islam di wilayah pesisir Kabupaten Purworejo. “Untuk itu, kami warga di Jenar Kidul selalu berusaha meramaikan masjid dan menjaga keaslian bangunan. Kami sangat beruntung ada masjid yang memiliki nilai sejarah tinggi ada di wilayah ini,” tandasnya.(Jas)
Sumber: Kedaulatan Rakyat
GALERI MASJID TIBAN JENAR KIDUL
![]() |
Bagian dalam Masjid Tiban Jenar Kidul yang digunakan oleh Imam untuk Memimpin Sholat. Ada juga mimbar di sebelah Kanan. Serta terlihat 4 Soko / Tiang Penyangga Utama Masjid |
![]() |
Komplek Makam yang berada di Belakang Masjid. |
![]() |
Tampak Bagian atap Masjid |
0 komentar:
Posting Komentar